Dengan Smart City, Kabupaten Batang Nyaman untuk Ditinggali

Batang - Windy Gambetta, Pendamping Gerakan Smart City dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tahap I Gerakan Menuju 100 Smart City bertujuan untuk mengetahui kekuatan Kabupaten Batang dalam rangka melaksanakan program ini, supaya masyarakat merasa nyaman tinggal di dalamnya.

“Salah satu contohnya pemberian nama/istilah (branding) di bidang pariwisata karena Kabupaten Batang ingin menjadi “Heaven of Asia” (Surganya Asia), memang sudah ada destinasi wisata dan tempatnya mudah diakses, tapi belum melakukan promosi yang lebih maksimal,” terang Windy usai menjadi pembicara utama pada acara Sosialisasi dan Bimtek Tahap I Menuju 100 Smart City di Aula Kantor Bupati Kabupaten Batang, Senin (16/7) petang.

Lebih lanjut, Windy menerangkan, kita akan menganalisis kemungkinan yang bisa dilakukan untuk mewujudkan Smart City sesuai kekuatan daerah. Smart City jangan dipandang sebagai sesuatu yang berat, namun harus ditinjau dari pengembangan dan pengelolaan kota dengan cara yang inovatif.

“Melihat RPJMD Kabupaten Batang, sebetulnya sebagian sudah ada di dalamnya, selanjutnya harus fokus pada kegiatan-kegiatan yang lebih inovatif supaya tidak tertinggal dengan daerah lain,” ucapnya.

Keterlibatan dari masyarakat dan komunitas lanjutnya, juga sangat penting karena stakeholder yang terlibat dalam Smart City tidak hanya Pemerintah Daerah.

“Sebuah kesalahan jika Smart City hanya dilihat sebagai kegiatan milik Pemda saja, tapi kegiatan semua pihak yang terlibat dengan pengembangan dan pengelolaan kota,” tegasnya.

Pengadaan anggaran selain dari kemampuan daerah, juga bisa diperoleh melalui hibah dengan pihak swasta sepanjang sesuai dengan visi misi Pemkab Batang. Membangun Smart City harus ada kerja sama yang baik antara Pemkab, masyarakat dan pihak pebisnis melalui kegiatan yang mendukung Smart City.

“Jika kekurangan dana, bisa dicari dengan cara yang lebih kreatif tapi tidak menyalahi aturan,” ujar Windy.

Windy menambahkan, masyarakat jangan hanya siap untuk menikmati “Kota Pintar" saja, tapi mereka pun harus sudah siap menjadi “manusia yang pintar” dengan menunjukkan sikap disiplin mulai dari hal terkecil seperti buang sampah pada tempatnya.

“Jangan hanya mengembangkan infrastruktur saja, tetapi yang paling penting adalah budaya masyarakat yang membaik sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan 100 Smart City di Kabupaten Batang,” pungkas Windy. (MC Batang, Jateng/Heri)

Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Bagikan ke Jejaring Sosial