Pelepasan Siswa SMPN 5 Batang Berbalut Budaya Jawa

Batang - Sebagai sekolah yang berpredikat Bangunan Cagar Budaya, SMPN 5 Batang menggelar acara pelepasan siswa-siswi kelas IX yang kental dengan balutan unsur budaya Jawa khas pesisiran. Untuk menambah nilai kearifan lokal, para siswa kelas IX yang telah lulus 100% pun ikut menampilkan tarian dan tembang Jawa di hadapan Bapak/Ibu guru, sebagai tanda penghormatan dan rasa terima kasih atas bimbingan serta didikannya selama tiga tahun menjadi peserta didik di SMPN 5 Batang.

Kepala SMPN 5 Batang, Anung Setyawan pada acara Pelapasan Siswa-Siswi Kelas IX di halaman SMPN 5 Kabupaten Batang, Senin (17/6/2019) mengutarakan, berdasarkan pertimbangan dari Pemerintah Daerah, SMPN 5 Batang masuk ke dalam bangunan cagar budaya, sehingga sangat sinergi jika kesenian musik tradisional menjadi unggulan.

“Kami memiliki guru seni musik yang piawai di bidangnya, terlebih saya pun sangat menyukai musik. Sudah tentu gayung bersambut antara keduanya, maka pada pelepasan siswa-siswi ini ditampilkanlah kesenian musik khas masyarakat pesisir pantai utara,” terangnya.

Ia menjelaskan, yang ditampilkan adalah budaya musik tradisional pesisiran berupa kentongan yang dikolaborasikan dengan gamelan dan rebana. Tujuannya supaya tetap bisa bertahan di tengah modernisasi alat musik di era milenial dan berkembang, sehingga tetap lestari.

“Ketika siswa memasuki SMPN 5 Batang, mereka langsung melihat gunungan berupa topeng. Dan untuk pergantian jam pelajaran, sudah menggunakan bahasa Jawa. Agar siswa memiliki rasa cinta terhadap budaya leluhur, di setiap jam istirahat siswa diperdengarkan tembang-tembang Jawa maupun mocopat,” paparnya.

Tembang Jawa yang ditampilkan antara lain Anoman Obong, Tul Jaenak, Tari Tahu Robyong dan Seni Rebana.

Anung mengharapkan, lulusan dari SMPN 5 Batang, dapat terus berprestasi, dapat membawa nama baik almamater dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, di SMA maupun SMK.

“Kebangkan bakat dan potensi diri, wujudkan cita-cita setinggi langit, dengan terus mengukir prestasi di bidang akademik maupun seni budaya sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah menghasilkan karya agung, sehingga dapat dinikmati anak cucu di masa depan,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Catur Setiawati perwakilan siswi kelas IX mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, karena berkat didikan Bapak/Ibu selama tiga tahun, memperoleh banyak pelajaran baik materi ataupun tentang kehidupan, sehingga dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa.

“Pesan yang paling berharga dari guru yaitu sebagai insan manusia harus terus berusaha, pantang menyerah dan putus asa dan taat beribadah kepada Allah Ta’ala,” tuturnya. (MC Batang, Jateng/Heri)

Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Bagikan ke Jejaring Sosial